Terjang Angan-angan





Dini hari.
Bukan malam juga pagi.
Suara jangkring mulai berbunyi.
Mesin ketik mulai bernyanyi.
Dimulainya dengan hati-hati.
Sebab satu kecacatan takkan bisa terobati.

Tertutupnya mata untuk melepas lelah.
Agar sang waktu memusnahkannya.
Terdengar suara gamelan di luar rumah.
Ditengok ternyata ondel-ondel sedang berdansa.

Rupanya anak kecil yang mengiringnya.
Parasnya riang dan gembira.
Iri dengan kegembiraan mereka.
Biarpun lelah takkan menghapusnya.

Di usia mereka yang tampak muda
Rajin bekerja untuk membiayai hidupnya.
Walaupun hujan menerjang.
Terik matahari merangsang.
Namun mereka tetap tabah.
Untuk menuju jalan yang berkah.

Duduklah dihadapanku.
Ingin kuberitahu sesuatu. 
Kita ini pemuda penerus bangsa.
Jangan hanya pintar untuk bergaya.
Tetapi bodoh dalam etika.

Lihatlah anak kecil itu sedang meminta.
Saat ondel-ondelnya sedang berdansa.
Jika kau punya etika.
Pasti kau merasa iba.

Dengarlah, kawan!
Jangan kau hanya berangan-angan.
Ikutilah tingkah anak kecil itu.
Bekerja sampai tubuh dimakan waktu.

Ku sudahi ketikan ini.
Semoga engkau menuruti.


*****

Puisi ini pernah memenangi Juara Tiga Cabang Seni Cipta Puisi dalam kegiatan FLS2N SMA Tingkat Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Kota Administrasi Jakarta Pusat Tahun 2018.

Komentar